Kreasi Anakku

ADIKKU

(Puisi Karya Muhammad Faza Adzkiya Rahman

Siswa Kelas IB SDN Gedongkuning Yogyakarta)

 

Aku  punya adik dua 

Bernama  Fakhri  dan  Faiz

Adikku lucu-lucu

Aku  selalu ingat Adikku

Adik  Fakhri  sudah  bisa  berdiri

Tapi  awalnya  pegangan  tembok

Atau  pegangan  Aku  agar  bisa berdiri

Adik  Fakhri  suka makan  bubur

Adik  Faiz  baru bisa menangis

Malam-malam  menangis  keras

Dan harus  dipangku jika ingin  tidur

Aku sangat  sayang  adik  Faiz

Dilema Keluarga Muslim: Antara Tradisi dan Modernitas

Di tengah-tengah derasnya arus globalisasi dan informasi yang melanda keluraga Muslim di dunia Islam, Islam telah menawarkan sebuah pemecahan masalah yang praktis, tapi dengan landasan normatif yang kuat. Islam sesungguhnya sangat akomodatif dalam mengkaji etika religius keluarga Muslim. Modernisasi yang datang dari Barat tidak seharusnya membuat keluarga Muslim menjadi kehilangan jati dirinya, dengan membuang tradisi Islam begitu saja. Di sini menarik pernyataan Al-Shafshafi Ahmad al-Mursi dalam buku Al-Qiyam al-Usriyyah bain al-Ashalah wa al-Mu’asharah (hlm. 8) sebagai berikut:

“Kami tidak menolak pertarungan peradaban, sebab semua peradaban manusia itu pada intinya saling berinteraksi dan saling melengkapi. Pertarungan yang bersifat kultural dan ekonomi itu jelas merupakan sebuah tindakan sewenang-wenang. Orang fakir karenanya akan menjadi terlantar dan orang lemah akan terpinggirkan. Perhatian terhadap masalah al-Ana (Saya) dan al-Akhar (Liyan) dewasa ini telah menjadi kuat, padahal masa depan tetap berada pada masing-masing masyarakat. Untuk menjaga rasa cinta ini, demi melestarikan identitas Islam, dan untuk mencegah serangan al-Akhar (Liyan), dengan cara mengambil peradaban manusia modern yang bermanfaat, kami tidak menolak al-Akhar (Liyan) kecuali jika ia melakukan tindakan sewenang-wenang.”

Dari kutipan di atas tampak bahwa sebenarnya dalam Islam terdapat dialog antara al-Ana (Saya) dan al-Akhar (Liyan), selama al-Akhar (Liyan) tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan al-Ana (Saya). Islam tetap bermaksud melestarikan tradisi yang ada pada al-Ana (Saya), karena ini merupakan warisan yang berharga. Akan tetapi, untuk dapat berpartisipasi dalam percaturan global, al-Ana (Saya) harus juga mengambil manfaat peradaban modern dari al-Akhar (Liyan), selama peradaban itu tidak menghilangkan tradisi al-Ana (Saya). Jadi, di sini tampak sekali sikap moderasi Islam dengan tidak berpikir dikotomik. Meskipun keaslian Islam (al-ashalah) harus dipertahankan, tapi itu tidak berarti menolak modernitas Barat (al-mu’asharah), selama hal ini memiliki nilai positif bagi kemajuan Islam.

 Keluraga Muslim tak jarang menghadapi semacam krisis identitas. Mereka dalam membina keluarganya di era global ini telah mengalami pergumulan antara keharusan memegang tradisi di satu sisi, dengan tuntutan mengikuti alam modernitas di sisi lain. Pertarungan ini seyogyanya tidak menjadikan kelurga Muslim menjadi berada di persimpangan jalan di antara keduanya. Jalan terbaik dalam menghadapi pertarungan ini adalah adalah mendialogkan tradisi dengan modernitas.

Dalam konteks itu, perlu dikemukakan bahwa memang Islam dalam menghadapi realitas sosial dan kultural tidak selalu memberikan jawaban yang diharapkan para pemeluknya. Kenyataan ini banyak terkait dengan sifat ilahiah dan transendensi Islam, berupa ketentuan-ketentuan yang normatif-dogmatif. Di sini sering terjadi semacam “pertarungan teologis” antara keharusan memegangi doktrin yang bersifat normatif, dengan keinginan memberikan pemaknaan baru terhadap doktrin tersebut agar tampak historisitasnya. Pertarungan ini tak jarang memunculkan konflik teologis, intelektual dan sosial di kalangan kaum Muslim secara keseluruhan. Untuk itu, dialog antara doktrin dan pemaknaannya merupakan hal niscaya dalam mengatasi dilemma keluarag Muslim ini, agar keluraga Muslim dapat terus survive di tengah-tengah percaturan global. Semoga !

Membina Keluarga Muslim di Era Informasi

Kehidupan manusia dan peradabannya di era global ini ditentukan oleh kemampuannya pada penguasaan atas informasi dan teknologinya. Masalahnya adalah:  siapakah yang menjadi pemilik informasi itu? Jawabannya jelas, masyarakat Barat yang tergolong dalam kategori Second Wave atau Third Wave dalam terminologi Tofflerian. Kita, dunia Islam, pada umumnya masih menjadi masyarakat penerima informasi dengan kategori First Wave. Informasi global yang diterima dunia Islam, baik melalui media cetak maupun elektronik, sebagian besar merupakan produk Barat. Informasi global yang diterima itu jelas memiliki dua kemungkinan, arah positif atau arah negatif. Hal ini tergantung pada konsep, pemikiran, budaya dan nilai apa yang diinstalkan pada informasi itu.

Dalam kondisi seperti itu, bagaimana sikap Islam dalam menghadapi kehidupan global ini? Di sini menarik pernyatan Akbar S. Ahmed sebagai berikut:

 “Abad ke-21 tidak dapat memandang rendah Islam, karena Islam tetap merupakan suatu kekuatan tersendiri. Sebaliknya, Islam pun harus menerima abad ke-21 karena abad itu pasti datang. Sikap menolak bukanlah jalan keluar yang tepat. Dengan kata lain, Islam harus ‘akrab’ dengan abad ke-21. yang dengan cara ini Islam akan memperoleh keharmonisan dalam tubuhnya sendiri”.

Manfaat yang diperoleh dunia Islam dari globalisasi informasi abad ke-21 sungguh tak dapat dipungkiri. Namun aspek manfaat ini tidak harus melalaikan dampak negatif yang ditimbulkannya. Salah satu dampak negatifnya adalah terbentuknya ikatan keluarga yang individualistik. Keluarga menjadi kehilangan fungsinya sebagai unit terkecil pengambil keputusan. Seseorang bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, tidak lagi bertanggung jawab kepada keluarganya. Ikatan moral dalam keluarga menjadi semakin lemah, sehingga keluarga dipandang sebagai lembaga yang teramat tradisional.

Bagaimana seharusnya keluarga Muslim sebagai sebuah institusi dalam menghadapi abad globalisasi yang telah mengalami revolusi komunikasi (al-tsaurah al-ittishaliyyah)? Pertanyaan mendasar inilah yang akan dicarikan jawabannya dalam tulisan ini.

Sebuah keluarga Muslim pada hakikatnya merupakan landasan utama bagi terbentuknya masyarakat Islami. Di dalam keluarga Muslim terkandung sebuah konsep religius (al-mafhum al-dini), yaitu bahwa para anggota keluarga diikat oleh sebuah ikatan agama untuk mewujudkan kepribadian yang luhur (al-syakhshiyyat al-sawiyyah). Konsep ini menekankan bahwa sebuah keluarga Muslim harus dapat  membentuk para anggotanya agar memiliki kepribadian yang luhur ini. Memiliki sifat kasih dan sayang, cinta sesama, menghormati orang lain, jujur, sabar, qana’ah dan pemaaf merupakan di antara indikator bagi sebuah kepribadian yang luhur.

Akan tetapi, setelah peradaban manusia mengalami perkembangan yang pesat semenjak abad ke-18 M, sebagai akibat dari adanya proyek industrialisasi, modernisasi dan transformasi peradaban, keluarga Muslim kiranya menerima dampak dan pengaruh proyek-proyek ini. Kepribadian luhur yang berasal dari tradisi Islam lambat-laun kiranya mulai mengalami degradasi, terkikis dan tercerabut dari akar-akar keislamannya. Dengan ini keluarga Muslim secara gradual berarti mengalami krisis sosial (al-azmat al-ijtima’iyyah).

TIGA SOLUSI ISLAM

Bagaimana seharusnya masalah penting di atas ditanggulangi, agar keluarga Muslim dapat survive dan dapat melanjutukan tugasnya sebagai khalifah allah fi al-ardl? Ada tiga solusi yang ditawarkan Islam agar kelurga Muslim dapat hidup di era kontemporer.   

Pertama, mewujudkan ekonomi keluarga yang handal

Setiap anggota keluarga hendaknya memperhatikan dan melaksanakan fungsinya masing-masing, agar semua urusan rumah tangga dapat di atasi. Hal ini tentunya disesuaikan kesanggupan yang dimilikinya. Seorang bapak wajib memiliki pendapatan tetap (al-dakhl al-lazim) untuk menjamin resiko hidup keluarganya. Seorang ibu, apabila memungkinkan, boleh bekerja untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Anak-anak kewajibannya adalah belajar. Apabila  memungkinkan, mereka boleh bekerja paruh waktu di saat-saat liburan sekolah. Anak-anak yang masih berada dalam usia sekolah dasar seyogyanya dapat berpartisipasi dalam meringankan beban kelurarga, misalnya dengan menjaga kebersihan rumah, mengasuh adik-adiknya atau membantu urusan rumah tangga bapak-ibunya jika mampu. Anak-anak yang sedang dalam usia sekolah menengah wajib mencari pekerjaan tambahan di sela-sela liburan sekolah. Anggota keluarga yang lain, jika ada dan memungkinkan, juga ikut serta dalam membenahi urusan rumah tangga, seperti menjaga perabot rumah tangga, membersihkan halaman atau merapikan tempat belajar anak-anak.

Konsep dasar bagi perwujudan ekonomi yang handal ini adalah: (1) Setiap anggota keluarga bertanggung jawab untuk meringankan beban keluarga. (2) Seorang ibu sekalipun bekerja harus tetap memperhatikan urusan-urusan rumah tangganya. (3) Semua anggota keluarga, baik laki-laki maupun perempuan, harus berpartisipasi dalam semua pekerjaan rumah tangga.

Kedua, melestarikan tradisi

Dalam sistem keluraga Timur (dunia Arab), bapak adalah kepala rumah tangga, dan ibu adalah pendamping bapak dengan hak yang sama. Seorang bapak harus dapat memelihara dan menjaga sistem atau aturan keluarga di antara para anggotanya. Demikian juga seorang ibu harus dapat mengatasi penderitaan-penderitaan keluarga, menghilangkan perselisihan dan menyelesaikan semua krisis yang ada. Intinya, baik bapak maupun ibu, harus mengetahui dengan baik kewajiban dan tanggung jawabnya masing-masing. Apabila terjadi permasalahan di antara keduanya, hendaknya dapat diselesaikan dengan baik, penuh penerimaan, tanpa harus mempengaruhi anak-anak.

Berikut ini dikemukakan beberapa tips untuk menjaga keharmonisan rumah tangga dalam rangka melestarikan tradisi Islam:

  1. Menghormati orang yang lebih besar.
  2. Saling memahami kebutuhan  dan tuntutan, sesuai kemampuannya.
  3. Tidak memotong pembicaraan orang lain.
  4. Mendengarkan keluhan dan pembicaran orang yang lebih kecil.
  5. Berbicara dengan suara yang lembut dan santun.
  6. Berusaha untuk tersenyum ketika mengekspresikan ketidaksetujuan.
  7. Bersyukur atas rizki atau karunia yang ada.
  8. Selalu meminta nasihat atau pendapat, jika perlu.
  9. Menyampaikan keputusan keluarga di saat makan bersama dengan perasaan gembira.
  10. Tidak menghina atau mengejek anggota yang lain ketika berbicara.
  11. Tidak mengeluarkan kata-kata makian.
  12. Berprilaku sopan di hadapan orang yang lebih besar.
  13. Mohon izin merokok, apabila hendak merokok.
  14. Mempersilakan duduk orang yang lebih besar.
  15. Tidak usah memberikan suguhan dengan tergesa-gesa dan mengagetkan.
  16. Memperkenalkan tamu kepada anggota keluarga yang lain.
  17. Menghadiri undangan, jika tidak ada halangan. 

Ketiga, memperhatikan aspek rasa dan emosi

Merupakan hal yang asasi bahwa setiap anggota kelurga harus memiliki rasa kasih dan sayang serta rasa percaya terhadap anggota yang lain. Perasaan-perasaan  ini harus dipupuk sedemikian rupa dalam sebuah keluarga Muslim melalui berbagai kesempatan yang ada. Di antara kesempatan-kesempatan yang dapat digunakan keluarga Muslim untuk memupuk perasaan ini adalah mensyukuri hari kelahiran, mensyukuri hari permulaan sekolah, mensyukuri keberhasilan studi atau pekerjaan, mensyukuri pekerjaan baru, mensyukuri Idul Fitri dan Idul Adha, mensyukuri kelahiran Nabi, mensyukuri hari Ibu, mensyukuri khitan, mensyukuri permulaan tahun, mensyukuri pernikahan dan lain-lain.

Keluarga sebgai Titik Awal Meningkatkan Minat Baca

Kompas pada Kamis, 10 Februari 2011, memberitakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur. Penelitian UNESCO menyimpulkan bahwa dari 1000 orang Indonesia, hanya satu orang yang memiliki minat baca tinggi. Untuk ini, Ketua Kompartemen Minat Baca IKAPI, Hikmad Kurnia menyarankan perlunya pendekatan baru untuk meningkatkan minat baca ini. Selama ini, anak-anak Indonesia umumnya mengenal buku pertama adalah buku pelajaran. Akibatnya, anak menjadi tidak berminat membaca buku, karena buku identik dengan sesuatu yang sulit, tidak menyenangkan.

Bagaimana cara meningkat minat baca ini? Anak-anak semestinya dibuat senang dulu pada buku, antara lain dengan jalan menyediakan buku-buku yang menarik di awal mereka memulai membaca. Jika sudah senang, akan lebih mudah untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Di sisi lain, pemerintah seyogyanya memiliki kepedulian pada industri perbukuan. Selama ini pemerintah hanya fokus pada penerbitan buku-buku pelajaran sekolah. Padahal, banyak jenis buku yang perlu mendapat dukungan untuk meningkatkan minat baca masyarakat ini.

Untuk itu, keluarga kiranya mendapat posisi strategis untuk melatih dan membiasakan anak-anaknya membaca buku, bukan hanya buku pelajaran sekolah, tapi yang lebih penting untuk memotivasi membaca adalah membaca buku-buku yang disenangi. Di sinilah letak perlunya keluarga memiliki perpustakaan, yaitu perpustakaan keluarga.

Keluarga dalam Perspektif Islam

 Keluarga dapat diartikan sebagai kelompok sosial yang merupakan produk dari adanya ikatan-ikatan kekerabatan yang mengikat satu individu dengan yang lainnya. Dengan pengertian ini keluarga berarti merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu keluarga luas atau keluarga besar yang disebut dengan al-‘ailah, dan keluarga inti atau keluarga kecil yang disebut dengan istilah al-usrah. Al-‘ailah dimaknai sebagai lembaga tempat hidup bersama dengan situasi yang berbeda-beda, tapi di bawah satu formasi keluarga,  yang di dalamnya terbentuk sebuah ikatan bersama. Sedangkan al-usrah adalah kelompok sosial yang terdiri dari suami, istri dan anak-anak yang belum menikah.

Dengan klasifikasi itu, keluarga mempunyai empat fungsi, yaitu:

  1. Fungsi seksual yang membuat terjadinya ikatan di antara anggota keluarga, antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis kelamin ini secara alami berada pada posisi yang saling membutuhkan.
  2. Fungsi kooperatif untuk menjamin kontinuitas sebuah keluarga.
  3. Fungsi regeneratif dalam menciptakan sebuah generasi penerus secara estafet.
  4. Fungsi genetik untuk melahirkan seorang anak dalam rangka menjaga keberlangsungan sebuah keturunan.

Sebelum Islam lahir, sistem kekeluargaan yang digunakan masyarakat Timur (dunia Arab) adalah sistem kesukuan (nizam al-qabail) yang bersandar pada “kerabat keluarga” (al-qarabah al-usriyyah). Sistem ini pada umumnya menyebut sebuah keluarga dengan nama kepala sukunya. Sistem kekeluargaan seperti ini pada dasarnya diterima Islam, karena kedatangan Islam ke wilayah ini tidak banyak mempengaruhi sistem kekeluargaan yang ada, bahkan Islam cukup adaptif dengan sistem ini. Hal ini karena Islam tidak menggunakan sistem tersendiri untuk sebuah sistem kekeluargaan. Tapi yang menjadi “kata kunci” untuk memahami sebuah sistem keluarga dalam Islam adalah istilah zawaj atau tazwij.  Terma ini dalam Islam dipahami sebagai masa terpisahnya anak (laki-laki atau perempuan) dari rumah tangga bapaknya. Apabila seorang anak telah melakukan zawaj, maka ia memiliki otoritas secara otonom untuk membina rumah tangganya tersendiri. Hal ini karena Islam memandang sinn al-zawaj sebagai batas seseorang untuk memiliki sikap kemandirian, baik dari segi psikis maupun fisik.

Sebuah keluarga Muslim merupakan landasan utama bagi terbentuknya masyarakat Islami. Di dalam keluarga Muslim terkandung sebuah konsep religius (al-mafhum al-dini), yaitu bahwa para anggota keluarga diikat oleh sebuah ikatan agama untuk mewujudkan kepribadian yang luhur. Konsep ini menekankan bahwa sebuah keluarga Muslim harus dapat  membentuk para anggotanya agar memiliki kepribadian yang luhur ini. Memiliki sifat kasih dan sayang, cinta sesama, menghormati orang lain, jujur, sabar, qana’ah dan pemaaf merupakan di antara indikator bagi sebuah kepribadian yang luhur.

Mulai dari Semangat IQRA!

Dengan dilandasi semangat wahyu pertama, tradisi membaca di kalangan kaum Muslim periode Klasik mencapai derajat yang paling tinggi. Kesarjanaan (scholarship) atau intelektualisme menurut Nurcholish Madjid memang merupakan ciri utama masyarakat Muslim perkotaan periode Klasik. Pada masa ini tidak ada masyarakat manusia yang memiliki etos keilmuan yang begitu tinggi seperti pada masyarakat Muslim. Telah menjadi pengakuan umum dalam masyarakat modern dewasa ini bahwa masyarakat Muslim tempo doeloe adalah sangat instrumental di dalam mewarisi, mengembangkan dan mewariskan kekayaan intelektual umat manusia. Masyarakat Muslim merupakan kelompok manusia pertama yang menginternasionalkan ilmu pengetahuan, sehingga ilmu pengetahuan menjadi universal, tidak mengenal batas daerah atau bangsa tertentu.

Ilmu pengetahuan Islam demikian adanya karena ia dilandasi oleh keimanan kepada Allah. Ia dikembangkan sedemikian rupa dengan mengambil keseluruhan warisan kemanusiaan setelah dipisahkan mana yang benar dan mana yang salah. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan dan peradaban Islam yang kosmopolit dan universal, yang menjadi milik dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Keberhasilan kaum Muslim pada masa awal dari segi intelektualisme itu sesungguhnya diraih melalui sebuah proses transformasi yang cukup panjang. Peran lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti kutta>b, masjid, madrasah, perpustakaan, toko-toko buku dan lain-lain, dalam hal ini kiranya tidak dapat diabaikan. Menurut Charles Michael Stanton, hal itu sebenarnya diperoleh bukannya melalui lembaga-lembaga pendidikan formal seperti madrasah, tetapi transformasi itu dicapai melalui lembaga-lembaga pendidikan informal dan pribadi-pribadi intelektual Muslim yang berkembang secara dinamis dalam masyarakat Muslim. Mereka adalah ilmuan-ilmuan yang bebas mengembangkan tradisi keilmuan Islam dengan melakukan berbagai kajian di dalam lingkaran studi (halaqah), perpustakaan, rumah sakit dan observatori. 

Pertanyaannya adalah mengapa keberhasilan itu diperoleh melalui lembaga-lembaga pendidikan informal? Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan formal seperti madrasah didirikan dengan maksud-maksud tertentu. Secara politis, ia didirikan sebagai alat bagi penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, sedangkan secara keagamaan, ia dibangun untuk mempertahankan dan menegakkan ortodoksi Sunni. Tujuan-tujuan inilah yang diantaranya membuat lembaga pendidikan formal seperti madrasah tidak mampu mengembangkan keilmuan Islam secara bebas. Selain dari pada itu, madrasah-madrasah ini memang ditujukan hanya untuk mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan yang sifatnya keagamaan. Ia dibangun bukan untuk mengembangkan ilmu-ilmu non keagamaan yang sifatnya keduaniaan atau profan. Itulah diantaranya mengapa madrasah sebagai lembaga pendidikan formal tidak mampu melahirkan dan memberikan supremasi yang tinggi bagi sains dan teknologi.

Melihat kondisi madrasah seperti itu, sekelompok ilmuan Muslim dan para sarjana dari kalangan muda bermaksud menampung ilmu-ilmu non keagamaan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan. Secara spontan dan alamiah, lembaga-lembaga yang mereka dirikan itu menyediakan situasi yang produktif bagi upaya pengembangan warisan Yunani dan bangsa Timur  dalam bidang filsafat, teologi, matematika, kedokteran dan ilmu pengetahuan alam. Mereka melakukan komunikasi dan interaksi dalam suasana belajar-mengajar yang tidak terikat. Pusat kegiatan pendidikan seperti ini bisa jadi terdapat di perpustakaan, istana, rumah tempat tinggal seorang syaikh, toko buku, atau barangkali juga di rumah sakit dan laboratorium perbintangan.  Unsur terpenting dari sistem pendidikan informal ini adalah seorang syaikh yang sambil duduk di atas sebuah kursi memimpin sebuah pertemuan dan menerima murid-murid yang duduk di lantai melingkarinya. Sistem seperti ini telah mampu menciptakan hubungan yang permanen antara pembimbing dan murid-muridnya. Menurut Johannes Pedersen, pendidikan yang berlangsung dengan sistem seperti ini telah dapat melatih kaum Muslim dalam ilmu pengetahuan yang diperlukannya. Para ilmuan yang mempunyai reputasi menonjol dalam bidangnya diberi kesempatan untuk mendemonstrasikan hasil temuannya. Tradisi keilmuan seperti ini berlaku di seluruh dunia Islam. Mereka berhasil membentuk semacam ikatan persaudaraan yang dilandasi semangat keilmuan yang tinggi, meskipun mereka itu bergerak dalam bidang yang berlainan. Demikianlah dengan semangat dan etos keilmuan yang tinggi, melalui lembaga-lembaga pendidikan informal, kaum Muslim masa Klasik berhasil menjadi khair ummah, yang mampu mengungguli bangsa-bangsa lain dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Membangun Keluarga Baca

IQRA! Itulah wahyu pertama yang Allah turunkan kepada Muhammad. Kaum Muslim di mana pun berada, diperintahkan untuk “membaca”, ya membaca semua “ayat” Allah, baik yang kontekstual (alam dan seisinya-ayat kauniyah) maupun yang tekstual (Alquran dan maknanya-ayat quraniyah). Bila mana seorang manusia mulai membaca? Ya, itulah institusi sosial yang bernama keluarga. Keluarga merupakan fondasi paling dasariyah bagi semua manusia untuk mengembangkan kemampuan dan minat bacanya. Dari keluargalah seorang individu mulai mengenal baca dan tulis, sebelum merambah jauh ke dunia luar semisal sekolah. Oleh karena itu, sejak awal pembinaannya, sebuah keluarga seyogyanya dibangun berdasarkan semangat IQRA, sebagaimana Allah perintahkan di atas.

Web pribadi ini dirancang sebagai media informasi yang bermaksud mempromosikan keluarga sebagai institusi strategis bagi upaya mewujudkan semangat IQRA. Berawal dari keluarga yang melek informasi diharapkan lahir masyarakat Muslim yang berbasis informasi. Langkah utama untuk merealisasikan promosi ini adalah terbentuknya perpustakaan keluarga bagi setiap keluarga. Perpustakaan keluarga dibuat tidak mesti seperti perpustakaan kampus atau sekolah. Yang penting rukun utamanya terpenuhi: ada pemustaka, ada buku, ada pengelola, dan ada aturan mainnya, itu saja! Dari RUKUN PERPUSTAKAAN inilah dapat dibuat: “Keluargaku, Perpustakaanku”. 

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.